Even If

Adyaning Raras Anggita Kumara
4 min readDec 17, 2021

Scrolling media sosial merupakan kegemaranku. Layaknya pengguna instagram pada umumnya, aku kerap mencari inspirasi melalui fitur eksplor.

Sore itu.. aku membuka eksplor dan melihat sebuah reels. Video balita manis sedang berjalan di depan sang mama yang berkhotbah di atas mimbar. Video tersebut berisikan kalimat “Ziona is the living proof how God and His love is so real”.

Ziona adalah putri dari Joanna Alexandra dan Alm. Pastor Raditya Oloan. Pasangan ini bisa ku bilang adalah salah satu pasangan kesayanganku. Aku mengikuti kisah mereka sejak sebelum mengenal Yesus, sampai memberikan hidup mereka sepenuhnya untuk melayani Yesus.

Ziona merupakan gadis manis yang terlahir dengan penyakit langka Campomelic Dysplasia. Aku kurang tahu rinci seperti apa penyakit ini. Yang ku tahu, penyakit ini merupakan penyakit langka yang diderita 1 dari 200.000 orang di dunia.

Keluarga Joanna Alexandra dan Alm. Ps. Raditya Oloan (instagram.com/joannaalexandra)

"A disease might be rare, but hope should not be,” tambah Joanna dalam laman Popbela.com.

Jelas sekali, aku paham apa yang dimaksud oleh pembuat video tersebut. Di video tersebut, Ziona bisa berjalan tanpa bantuan alat atau orang lain. Luar biasa, siapa lagi kalau bukan Tuhan yang mengizinkan itu terjadi.

But.. one of my bestie asked me a question about that. Dia bertanya, “Ras tp misal kalo dia gak bisa jalan apakah jadinya God’s love for us isn’t real gitu? Aku tuh skrg suka kepikiran gitu2, misal kayak hal baik terjadi kan mudah ya ngomong gitu, tp apakah kalau hal buruk terjadi emang Tuhan gak baik gitu?”

What do you think, good people?

Secara pribadi, setiap orang pasti punya pandangan yang berbeda-beda dalam merespon suatu hal. Aku gak meminta perkataanku ini dibenarkan karena aku hanya berpendapat.

Menurutku, selama ini yang di-highlight orang adalah suatu hal yang ‘terlihat berbeda. Mostly kebaikan berupa keajaiban atau pertolongan Tuhan. We want to share how great is our God . Akan tetapi, bukan berarti Tuhan menjadi tidak baik ketika hal-hal baik itu tidak terjadi.

Memang.. ketika hal baik terjadi, ketika pertolongan itu datang, ketika apa yang kita harapkan terjadi, mengucap syukur terlihat sangat mudah. Mengungkapkan betapa besar kuasa dan kebaikanNya pun terasa mudah.

Berbeda ketika sesuatu yang tidak kita harapkan terjadi. Secara manusiawi pasti banyak orang akan marah, kecewa, bersungut-sungut, dan tidak mengucap syukur. Namun, apakah momen ini menyatakan bahwa God’s love is unreal?

Tentu saja tidak, bagiku.

Kita gak akan pernah bisa membaca perasaan orang lain. Bukan berarti God’s love for us isn’t real ketika hal buruk atau keajaiban itu tidak terjadi pada Ziona.

Sepertinya berulang kali ku katakan bahwa Tuhan itu baik. Apa pun yang Dia kerjakan dalam hidup kita itu baik. Gak pernah sedikitpun Tuhan merancangkan kecelakaan. Orang lain mungkin bisa merancangkan hal jahat, tapi tidak dengan Dia.

btw, aku juga sedang reminder diri sendiri kok hehe.

God’s love tetap real meskipun Ziona tidak bisa berjalan. Artinya, Tuhan punya misi lain untuk Ziona. Kasih sayang orang tua, support, penyertaan Tuhan selalu ada walau Ziona tumbuh tanpa seorang ayah. Itulah bentuk kasih Tuhan dalam hidupnya.

Apa yang diposting orang itu hanya satu koma dari banyaknya koma yang Tuhan beri.

Begitu pun dengan hidupku, teman-teman. Aku bertanya pada seorang teman soal resolusi tahun baru. Aku bercerita bahwa ada satu resolusi yang selalu ku tulis tiap tahun. Setia tahun aku selalu menulis harapan untuk memiliki pasangan. Akan tetapi… .. ada kriteria tambahan yang ku tulis setelahnya.

satu-satunya dan seumur hidup.

Itulah harapanku, memiliki pasangan yang tepat. Aku bisa menjadi orang yang tepat untuknya, begitu juga dengan dia. Aku ingin memiliki pasangan sekali untuk seumur hidup. Sederhananya, pacarku adalah suamiku. Aku beriman gak ingin punya mantan, kalau bisa.

Baru ku sadari ternyata Tuhan mendengar doa dan harapanku ini. Tuhan memang menjawab resolusiku dengan mengizinkanku tetap single sepanjang 24 tahun hidup ini. Artinya, ya.. memang belum waktuNya Tuhan.

Nah ternyata di balik itu semua, ternyata singleness ini merupakan jawaban Tuhan yang keren. Aku dijauhkan dari orang-orang yang tidak tepat untukku. Tuhan menjauhkanku dari orang-orang yang tidak layak. Itu juga karena aku yang meminta pasangan satu-satunya dan seumur hidup. Aku diberi kesempatan untuk belajar, berdamai dengan masa lalu, dan memperbaiki diri agar aku jadi wanita yang utuh dan layak ketika bertemu dengannya.

See..

Dari luar mungkin terlihat jahat kenapa kok Tuhan gak menjawab doaku. Padahal sebenarnya Ia sedang menjawab doaku saat itu dengan cara lain untuk menunjukkan apa yang benar, baik, dan layak ku terima.

Jadi..

Di balik unggahan seseorang, mungkin saja ada kesedihan. Di balik unggahan seseorang, mungkin saja ada rasa penuh syukur yang luar biasa.

we never know it.

‘EVEN IF’ mungkin kata yang tepat untuk menjawabnya. Sekalipun aku tahu Tuhan mampu menjawab doaku, tetapi ketika Ia memilih tidak melakukannya bukan berarti aku mengatakan bahwa Ia dan segala perbuatanNya tidak nyata atau baik. Bukan berarti aku akan meninggalkanNya.

“Kami percaya Tuhan kami mampu mengeluarkan kami dari perapian itu, tetapi bahkan jika Dia tidak menyelamatkan kami, kami tetap tidak akan menyembah patung-patungmu!”

Begitulah iman Sandrakh, Mesakh, Abednego ketika mereka berada dalam perapian.

--

--