Kebaikan itu Seperti Uang

Adyaning Raras Anggita Kumara
4 min readFeb 7, 2022

Punya dua sisi, kepedulian dan pengorbanan.

Photo by Visual Stories || Micheile on Unsplash

Kenapa uang? Punya dua sisi, selalu dibutuhkan, dan something you cant live without. You always need it. You must give it to others too.

Baru ku tahu, ternyata kebaikan itu memiliki dua sisi yang gak bisa terlepaskan. Ibarat seorang dokter yang mengorbankan waktunya untuk menyembuhkan orang lain. Apa yang dilakukannya itu mulia, tetapi ia harus rela ‘membuang’ waktu untuk diri sendiri atau keluarga.

Beberapa hari yang lalu, seorang teman dekatku menghubungi via chat WhatsApp. Ia mengirimkan beberapa foto lembar halaman suatu buku. Ternyata buku itu berisikan beberapa karangan, salah satunya milik sahabatku ini. Sembari mengirimkan foto itu, ia berkata “Ras wkwk terinspirasi olehmu i hope you’ll like it wkwk”. Segera ku baca dan nyes..

“Oh.. jadi selama ini dia merasakan itu? Aduh, maafin aku,” batinku.

Jika boleh ku rangkum, sahabatku ini menyesal berbuat baik. Begitulah judul dari karangannya. Ia adalah salah satu sosok yang berharga dan berjasa dalam hidupku. Aku gak tahu apa jadinya seorang Raras sekarang tanpa kebaikannya.

Berkatnya, aku bisa berada di posisi sekarang. Berkatnya, aku bisa melalui masa-masa ‘kelam’ dengan harapan baru. Ku rasa, ucapan terima kasih saja sebenarnya gak cukup untuk menyampaikan betapa berarti kebaikannya dalam hidupku. So cliche, but it’s true.

Ternyata dari cerita itu, aku baru tahu bahwa ia sempat menyesal telah berbuat baik kepadaku. Ternyata di balik kebaikan yang ia berikan, ada perasaan sesal yang timbul. Seolah kalah dalam pertandingan yang ia ciptakan sendiri.

Feeling guilty, itulah perasaanku saat pertama membaca ‘keluhannya’. Namun ada kasih Tuhan yang melingkupinya sehingga ia mampu melihat sudut pandang yang berbeda.

“Bagaimana bisa aku tega untuk merasa iri dan menyesal berbuat baik kepadanya, apalagi ketika dia benar-benar membutuhkannya? Seketika aku malu dan takut jika Tuhan akan marah atas tindakanku yang kurang bersyukur. Aku tidak bisa membayangkan jika Tuhan akan mengambil semua rezeki yang saat ini aku miliki,” begitu sepenggal ceritanya.

Aku bersyukur Tuhan mengirimkannya dalam hidupku. Dia adalah bukti nyata perpanjangan tangan Tuhan. Mungkin aku gak bisa berbuat lebih untuk membalas kebaikannya selain menyelipkan namanya dalam doa.

Dari cerita itulah aku tersadar bahwa kebaikan yang sebenarnya terlihat positif, tidak selamanya positif. Dibaliknya ada hal-hal yang harus terkorbankan, seperti ego, sifat kompetitif, waktu, dan banyak hal lain.

Photo by Kelly Sikkema on Unsplash

Everyone has a role. Some will love you, some will hate you. Some will teach dan to remind you.

“Even everything seems to be lost and dark, there is hope.”

Tahukah kamu bahwa aku pun merasakan hal yang sama?

Sahabatku menawarkan suatu pekerjaan beberapa bulan setelah aku kehilangan pekerjaan. Ku rasa, itu adalah waktu yang tepat untukku kembali menata masa depan. Tuhan memberikanku waktu sekian bulan untuk meredam emosi sampai akhirnya ia mengirimkan sahabatku ini.

Tak ku sangka, tawaran manis ini mengantarkanku melewati perjalanan penuh liku. Mengapa? Banyak hal terjadi di luar rencana, bahkan sama sekali tak terbesit olehku. Sampai aku merasa bahwa kebaikannya berubah menjadi trigger memori yang buruk. Goresan luka itu kesenggol.

Ada suatu masa di mana isi otakku ini cuma, “WHAT IF WHAT IF WHAT IF WHAT IF”

(Bagaimana jika kejadiannya terulang kembali, bagaimana jika aku gak bisa bertahan lebih lama dari sebelumnya, bagaimana jika mereka gak bisa nerima aku, bagaimana jika aku gak dihargai lagi, dan masih banyak what if lain)

Overthinqueen is my last name.

Anehnya, aku tetap menerima kebaikan itu walau ku tahu jalannya tak semulus jalan tol. Tapi, apakah aku menyesal menerima bantuannya? Jelas tidak. Dari kebaikannya, aku benar-benar masuk ke dalam dunia baru. Gak ada penyesalan, aku punya prinsip untuk menjalani aja apa yang ada di depanku sekarang. Somehow terasa berat, yes that’s the other side that people may not know.

This is the real definition of unexpected journey. Kebaikan yang akhirnya membuatku keluar dari zona nyaman.

Sama halnya seperti sahabatku yang mengambil sudut pandang baru, begitupun aku yang berusaha terus mengimani bahwa semua yang terjadi dalam hidupku pasti ada alasannya. Semuanya baik.

When God sent me this miracle,

you may not believe how glad i am that i’ve met you. Regardless of where it comes from, it’s one thing that pushes me to be a better person each day by day. I’m not gonna lie, it’s haaaaarrrdddd.

*aku nulis ini saat stuck verbatim bahasa Inggris. mungkin kemampuan listeningku memang payah sehingga susah sekali untukku menangkap perkataan orang lain. yeah, ini salah satu batu terjal. gapapa, mari dilalui :”) gara-gara ini juga aku jadi berpikir mau cari les bahasa inggris atau online course wkwkwkw as i said before, semuanya baik.

To trust God in the light is nothing

--

--